• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa
Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa

Kementerian ESDM mengakui produk baru PT Pertamina (Persero), Pertamax Green 95, yang merupakan campuran Pertamax dengan etanol 5 persen (E5), hingga kini belum bisa diproduksi massal.

Saat ini baru ada 15 SPBU yang menyediakan produk Pertamax Green 95 yakni 5 unit di DKI Jakarta mencakup SPBU MT Haryono, SPBU Fatmawati 1 dan 2, SPBU Lenteng Agung, dan SPBU Sultan Iskandar Muda.

Sementara 10 SPBU berada di Surabaya yakni SPBU Jemursari, Soetomo, Mulyosari, Merr, Ketintang, Karang Asem, Mastrip, Citra Raya Boulevard, Juanda, dan Buduran.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Tutuka Ariadji menuturkan rantai pasok etanol yang berasal dari molase tebu masih sangat terbatas, berbeda dengan biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit.

"Untuk bisa menjadi skala massal itu perlu rantai pasok yang panjang. Jadi sekarang tahapannya masih dalam skala-skala yang tidak besar, tapi sudah bisa dilakukan," ungkapnya saat acara Menelisik Prospek Energi 2024, Jakarta, Rabu (25/10).

Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (2/10/2023). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (2/10/2023). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Selain itu, dia mengakui tingkat konsumsi Pertamax Green 95 juga masih minim karena pertimbangan efek samping terhadap mesin kendaraan dan juga harga produk yang lebih mahal dari Pertamax.

"Lalu perlu dilihat acceptance dari masyarakat, terus dari penggunaannya itu ada tidak efek sampingnya. Itu perlu beberapa waktu sehingga penyiapan untuk skala massal dari hulunya itu bagaimana," tuturnya.

Soal rantai pasok tebu ini, Tutuka menilai butuh koordinasi antar kementerian untuk meminimalisasi dampak seperti ketersediaan lahan dan efeknya kepada komoditas pangan lainnya.

"Kita melihat itu suatu potensi baru, itu yang belum sesiap infrastrukturnya di Indonesia. Penguasaan lahan itu selalu menjadi hal yang tidak mudah," jelas Tutuka.

Ditemui usai acara, Tutuka menjelaskan kesiapan rantai pasok bioetanol ini dibutuhkan agar eksistensi produk Pertamax Green 95 bisa berkelanjutan, tidak hanya dalam jangka pendek.

"Untuk produksi skala besar itu nanti kita memerlukan rantai pasoknya dulu kesiapannya bagaimana, supaya sustain jadi tidak cuma memenuhi peresmian saja," tegas dia.

Dia juga mengakui, perluasan distribusi Pertamax Green 95 ke daerah lain, terutama di seluruh Pulau Jawa, masih sulit dilakukan. Selain terkait bahan baku, juga imbas minimnya permintaan dari masyarakat.

https://www.instagram.com/p/CwmOJIONkB_

"Iya itu makanya, kan terkait harga, terkait ada permasalahan di mesin tidak, sebagainya. Tapi kita biarkan dulu dipasarkan supaya kita punya data real dulu. Tapi volumenya itu, disebarkan sih bisa, tapi volumenya kurang besar," pungkas Tutuka.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, mengatakan penyebaran produk Pertamax Green 95 rencananya akan terus diperluas mencakup seluruh Pulau Jawa dalam 12 bulan ke depan, maupun luar Pulau Jawa secara bertahap, sejak peluncuran pada Juli 2023 lalu.

"Kami memang menargetkan dalam waktu 12 bulan bisa mencakup seluruh Pulau Jawa. Saat ini kita fokus untuk bisa melayani di dua kota, Jakarta dan Surabaya, lalu kita akan mulai pengembangan di kota-kota berikutnya di Pulau Jawa," ungkap Riva saat soft launching Pertamax Green 95 di SPBU MT Haryono Jakarta, Senin (24/7).

Riva menargetkan permintaan produk Pertamax Green 95 bisa mencapai 90 ribu kiloliter (KL) per tahun di seluruh Pulau Jawa. Target permintaan Pertamax Green 95 di Jakarta dan Surabaya volumenya sekitar 400 liter per hari.

"Memang di pasar RON 95 ini pun juga memang lebih kurang mungkin sekitar 700 sampai 1000 (liter). Jadi kita menargetkan di angka itu," tambahnya.

Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa
Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa

Sementara itu, Riva menuturkan etanol yang diproduksi di dalam negeri mencapai 30 ribu KL per tahun. Sementara untuk pasokan yang diperlukan untuk campuran Pertamax Green 95 hanya 12 ribu KL.

Dengan demikian, menurut Riva, masih ada lebih dari 50 persen pasokan etanol yang akan Pertamina manfaatkan untuk pengembangan Bahan Bakar Nabati Bioetanol di Indonesia, bekerja sama dengan PT Energi Agro Nusantara (Enero), anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X.


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *