• Maret 16, 2024
  • ardwk
  • 0

Jakarta, WK MEDIA

Setiap orang tentunya ingin menanam modal atau investasi demi kebutuhan keuangan di masa depan. Dalam berinvestasi tentu terdapat sejumlah pilihan instrumen.

Instrumen itu terbagi dalam instrumen investasi konvensional dan syariah. Khusus investasi berbasis syariah, ini merupakan penanaman modal masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sesuai dengan prinsip dan hukum Islam.

Nah, syariat Islam inilah yang menjadi pembeda jenis investasi ini dengan lainnya.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo menjelaskan investasi syariah memegang prinsip yang diterapkan antara lain adalah investasi tersebut harus halal atau diperbolehkan dari sisi agama.

Halal yang dimaksud yaitu tidak mengandung unsur riba (bunga), gharar (ketidakpastian), maysir (perjudian), dan tidak diperkenankan untuk berinvestasi pada unsur yang dilarang secara agama (haram).

“Dan biasanya investasi syariah juga mendorong untuk manfaat sosial seperti zakat dan sedekah serta mengedepankan transparansi transaksi dan etika,” kata Budi kepada CNNIndonesia.comJumat (15/3).

Lalu, apa saja instrumen investasi syariah yang dapat menjadi pilihan?

1. Deposito syariah

Secara umum, deposito syariah memiliki pola simpanan yang masih sama dengan deposito konvensional. Shohibul mal (nasabah/penyedia dana) 100 persen menyediakan dana kepada mudharib (bank/pengelola dana), pihak bank akan mengelola dana tersebut hingga mendapatkan keuntungan.

Menurut Budi, instrumen ini dapat menjadi pilihan apabila kita mengutamakan keamanan modal dan keuntungan yang pasti.

“Namun, imbal hasil cenderung rendah dibandingkan dengan instrumen lainnya,” imbuhnya.

2. Obligasi dan saham syariah

Obligasi syariah adalah jenis investasi berupa surat berharga jangka panjang yang menerapkan prinsip syariah dalam bermuamalah.

Budi mengatakan dengan membeli obligasi syariah, investor dapat berinvestasi dan memperoleh hasil tetap dari keuntungan usaha yang halal.

“Cocok untuk investor yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dari deposito,” katanya.

Sementara itu, saham syariah merupakan efek berbentuk saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Investasi ini dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan potensi keuntungan tinggi sekaligus berani mengambil risiko tinggi.

Budi mengatakan saham syariah adalah perusahaan-perusahaan yang mematuhi prinsip syariah dan bergerak dalam usaha yang halal seperti perusahaan teknologi, properti, otomotif, dan lainnya.

“Biasanya saham syariah dapat ditemukan atau tergabung dalam indeks saham syariah,” ucap Budi.

3. Reksa dana syariah

Budi menjelaskan dalam reksa dana sekelompok investor akan mempercayakan pengelolaan dana untuk dikelola secara profesional oleh manajer investasi.

Menurutnya, instrumen ini cocok untuk investor yang memiliki waktu terbatas, keanggotaan terbatas dan dana terbatas untuk melakukan diversifikasi dalam investasinya.

“Ada berbagai pilihan reksa dana yang dapat disesuaikan dengan tujuan dari investasi serta jangka waktu investasinya,” kata dia.

Adapun kelemahan dari investasi ini adalah adanya biaya manajemen untuk mempekerjakan tim manajer investasi.

Di sisi lain, investasi pada reksa dana syariah juga cukup likuid apabila investor membutuhkan dana sewaktu-waktu dapat mencairkan dananya dalam hitungan hari.

Lanjut ke halaman berikutnya…



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *