• Oktober 26, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi merekam kekerasan. Foto: SeventyFour/Shutterstock
Ilustrasi merekam kekerasan. Foto: SeventyFour/Shutterstock

Lagi ramai dan jadi perbincangan orang merekam aktivitas orang lain di tempat umum tanpa izin dan mengunggah di media sosial pribadi. Yang lebih parah, unggahan itu dibubuhi narasi yang tidak sesuai dengan kondisi aslinya.

Itu pernah dialami oleh Sonya, ibu rumah tangga yang tinggal di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, pada tahun 2022. Ceritanya, pada saat itu anak dan suaminya sedang jalan-jalan naik motor ke minimarket. Jaraknya cuma 800 meter dari rumah.

Pada hendak pulang, gerimis. Sonya lalu menutup kepala anaknya dengan kantong plastik dari minimarket. Tak dinyana, ternyata ada yang merekam, mengunggah ke media sosial, dan membubuhi dengan sebuah kalimat 'kasihan baby-nya, bersyukur banget aku masih bisa naik mobil'.

https://www.instagram.com/p/Cy12StPy36e

Unggahan ini ternyata diketahui oleh teman Sonya, yang kemudian protes. Video itu pun akhirnya dihapus dari IG oleh orang yang merekam dan mempostingnya.⁠

"Teman saya bilang 'Itu teman gue, woi, nggak semenyedihkan itu, dia punya mobil kok', aduh ngakak," kata Sonya saat berbincang dengan kumparan, Kamis (26/10).

"Saya syok sih , ngakak saya ama suami saya. Sampai suami saya bilang untung nggak dibukain donasi. Donasi buat beli mobil," lanjut Sonya.

Sonya menilai, jika melihat orang lain dan bersyukur tanpa merekam tak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang merekamnya tanpa izin dan menarasikan hal yang salah.

"Menurut saya melihat orang lain dan bersyukur tanpa merekam tidak apa-apa , tapi mungkin kalau dengan merekam (privasi) orang lain ada baiknya boleh dengan izin terlebih dahulu," ujar dia.

Apa yang dialami Sonya itu juga direspons oleh psikolog klinis dewasa Rumah Dandelion, Melisa. Menurut Melisa, perbuatan asal rekam semacam itu bisa terjadi karena minimnya empati. Ini pun memungkinkan seseorang untuk 'lompat' pada kesimpulan cepat tanpa mempertimbangkan sudut pandang orang lain alias nge-judge.

"Dalam hal ini, perilaku merekam dan membicarakan individu lain secara diam-diam dapat terminimalisir dengan adanya sikap empati," ujar Melisa.

https://www.instagram.com/p/Cy27nqCJsmD

Muncul banyak pertanyaan, apakah merekam orang di tempat umum dan mengunggah di media sosial itu bisa dipidana?

Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, menilai dengan menyebar informasi tentang pribadi di ruang publik, termasuk media sosial, berarti orang itu sudah menyerahkan info untuk dikonsumsi publik.

Menurut dia, pengutipan atau penyebaran ulang informasi tanpa menambahi dengan komentar atau analisis, bukan kategori pidana. Tetapi, jika ada orang lain menyebarkan info dengan menambahkan kata-kata yang menyudutkan orang yang menyebar info pribadinya dengan kata yang tidak patut, maka perbuatan itu bisa diklasifikasikan perbuatan pidana.

"Pencemaran nama baik melanggar Pasal 310 KUHP dengan ancaman hukuman 9 bulan," kata Fickar.

"Jika dilakukan melalui internet, maka melanggar Pasal 27 ayat 3 UU ITE, ancaman hukumannya maksimal 4 tahun (penjara)," lanjut Fickar.

Aturan hukuman penjara maksimal 4 tahun diatur dalam Pasal 45 ayat 3 UU ITE.

Pasal 310 KUHP:

(1) Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.

Pasal 27 ayat 3 UU ITE:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik

Pasal 45 ayat 3 UU ITE:

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *