• Oktober 31, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Tiga bakal calon presiden Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan usai makan siang bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/10/2023). Foto: Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden
Tiga bakal calon presiden Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan usai makan siang bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/10/2023). Foto: Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang ketiga bakal calon presiden (bacapres), yakni Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto, untuk makan siang bersama di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (30/10).

Ada satu kesamaan dari ketiga bacapres yang menghadiri undangan makan siang bareng Jokowi kemarin, yakni sama-sama mengenakan busana batik. Bahkan, ketiganya mengenakan motif batik yang sama, yakni batik parang.

“Motif batik yang digunakan semuanya (bacapres) dalam keluarga motif parang,” kata desainer batik Yogya, Abdul Syukur, pada Selasa (31/10).

TIga bacapres saat makan siang bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka pada Senin (30/10). Foto: Twitter Anies Baswedan
TIga bacapres saat makan siang bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka pada Senin (30/10). Foto: Twitter Anies Baswedan

Ia menjelaskan bahwa motif batik parang adalah motif batik yang cocok digunakan oleh para pemimpin. Dalam konteks ini, karena ketiganya baru menjadi bakal calon presiden, maka makna dari batik yang dikenakan menjadi semacam doa atau harapan.

“Walaupun agak dipaksakan. Sebab motif parang itu tergolong motif larangan,” lanjutnya.

Motif larangan merupakan motif batik yang tidak bisa sembarangan digunakan. Di Keraton Yogyakarta, motif batik parang dan variasinya menjadi batik larangan yang sangat ditekankan.

Penggunaan motif parang secara khusus diatur dalam ‘Rijksblad van Djokjakarta’ tahun 1927 tentang Pranata Dalem Bab Jenenge Panganggo Keprabon Ing Keraton Nagari Yogyakarta.

“Motif larangan ini kedudukan penggunaannya spesifik, baik oleh siapa yang memakai juga fungsi tertentu,” ujar Abdul Syukur.

Seniman batik Yogya yang juga Owner Batik Taman Lumbini, Abdul Syukur. Foto: Istimewa
Seniman batik Yogya yang juga Owner Batik Taman Lumbini, Abdul Syukur. Foto: Istimewa

Di Keraton Yogyakarta, motif batik parang hanya boleh dikenakan oleh raja atau keluarga raja seperti permaisuri atau anak-anaknya. Motif batik parang ini biasanya juga dikenakan dalam upacara-upacara penting, seperti upacara pelantikan raja sebagai harapan sang raja akan mengemban amanah dengan baik.

Mengutip laman KratonJogja.id, ada dua versi arti dari motif batik parang. Pertama, Rouffaer dan Juynboll mengatakan motif ini berasal dari pola bentuk pedang yang biasa dikenakan para ksatria dan penguasa saat berperang . Ksatria yang mengenakan motif ini diyakini bisa berlipat kekuatannya.

Versi lain mengatakan, motif parang ini diciptakan Panembahan Senapati saat mengamati gerak ombak Laut Selatan yang menerpa karang di tepi pantai. Sehingga pola garis lengkungnya diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam. Dalam hal itu yang dimaksud adalah kedudukan raja. Komposisi miring pada motif parang ini juga menjadi lambang kekuasaan, kebesaran, kewibawaan, dan kecepatan gerak.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *