• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi pembacokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
Ilustrasi pembacokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Agus Sutrisno (32), Sekretaris Desa (Sekdes) Sidonganti, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, tewas dibunuh oleh Jano (48) pada Selasa (24/10).

Pembunuhan itu terjadi di sebuah lahan kosong di Desa Hargoretno sekitar pukul 09.00 WIB.

Kapolres Tuban, AKBP Suryono mengatakan, alasan Jono membunuh karena diduga istri Jono berselingkuh dengan Agus.

"Pelaku melakukan pembunuhan diindikasi bahwa istri dari pelaku diduga berselingkuh dengan korban," ujar Suryono dalam keterangannya, Rabu (25/10).

Suryono menjelaskan, ketika itu, Agus hendak menuju kantor Kecamatan Kerek untuk mengikuti rapat evaluasi dana desa dengan mengendarai motor Kawasaki KLX warna Kuning-hitam bernopol S 2182 EAF.

Ternyata, Jono telah membuntuti Agus di hari itu menggunakan mobil pick up A 8382 YX. Saat di Jalan Raya Kerek-Montong, tiba-tiba Agus ditabrak oleh Jono dari belakang.

"Pelaku dendam dan sengaja membuntuti korban, saat di pertengahan jalan ditabrak dari belakang oleh pelaku menggunakan mobil," jelasnya.

Usai ditabrak, Agus berusaha menyelamatkan diri. Namun, Jono mengejar korban hingga ke tengah lahan kosong sekitar 50 meter dari jalan raya dan dibacok hingga meninggal dunia.

"Saat itulah pelaku menghabisi korban membabi-buta menggunakan pedang ada sekitar 7 kali bacokan, di kepala, bahu dan badan korban," terangnya.

Suryono menyebut, diduga Jono dibantu oleh satu pelaku lainnya yang saat ini masih diburu.

Pembunuhan direncanakan

Hasil pemeriksaan sementara, aksi pembunuhan itu telah direncanakan sejak dua hari yang lalu karena cemburu. Pelaku bahkan menyewa mobil pick up dan membuntuti korban sampai di lokasi yang sepi kemudian menabrak korban.

"Sementara yang kami dalami dari pemeriksaan tersangka cenderung kecemburuan istrinya berselingkuh dengan korban," katanya.

Akibat perbuatannya pelaku dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP. Dia terancam hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun.

"Artinya sudah direncanakan sejak awal sehingga kami akan terapkan Pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP," ucapnya.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *