• Oktober 18, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Petugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) berjalan di dekat bendera partai politik peserta Pemilu 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Senin (1/5/2023). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Petugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) berjalan di dekat bendera partai politik peserta Pemilu 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Senin (1/5/2023). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Mencermati dinamika persaingan capres-cawapres 2024-2028 khususnya koalisi perubahan dengan dukungan partai nasdem, PKS, PKB (awalnya ada Partai Demokrat, mundur karena terjadi pergantian pasangan yang di usung Agus Harimurti oleh Muhaimin Iskandar) yang mengusung Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, awal pasangan ini adalah Anies Baswedan dan Agus Harimurti. Namun secara mendadak dimotori oleh Partai Nasdem, berubah menjadi Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

Dalam dunia politik siapa pun sah-sah saja, untuk melakukan sesuatu apakah akan berkoalisi, oposisi ataupun netral. Selama prosesnya berjalan dengan baik dan didasari oleh kesepakatan-kesepakatan di antara mereka, semuanya akan baik-baik saja dan kesan yang tampak pada rakyat sama seperti itu. Karena apabila bicara politik, pastinya akan terkait dengan: kepentingan, pengaruh, kekuasaan, batasan wilayah maupun sumber-sumber potensi lainnya.

Dinamika kondisi tersebut dapat terjadi apabilanya dilakukan melalui proses komunikasi, agar terjadi perubahan sikap, pendapat dan perilaku, seperti yang diharapkan oleh para pelaku komunikasi. Komunikasi mempunyai peran penting berlangsungnya aktivitas manusia dalam hal apa pun, termasuk dalam konteks politik. Sesuatu yang dibangun melalui komunikasi atas dasar pemahaman makna, semuanya akan menghasilkan perubahan-perubahan berarti.

Satu hal penting, terkadang sering dilupakan orang, ketika kita melakukan apa pun termasuk dalam berkomunikasi hendaknya mempertimbangkan etika sebagai salah satu rambu-rambu yang menjaga dan mengingatkan kita, bagaimana kita berkomunikasi dan berperilaku seharusnya. Agar terlihat sebagai orang yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai kepantasan dan kepatutan.

Rasyid Masri (2022) menjelaskan bahwa etika komunikasi adalah gagasan moral, gagasan penyampaian isi pikiran dan hati, sehingga ketika kita sampaikan pada orang lain dibutuhkan etika kesopanan, adab bicara yang baik, yang bisa mudah dipahami dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Sebab etika itu sendiri adalah produk budaya yang mengatur tingkah laku manusia dalam pergaulan.

Pandangan tersebut menegaskan pada kita bahwa, dimanapun kita berada hendaknya menjadikan etika sebagai acuan kita dalam berkomunikasi dan berperilaku dengan siapa pun juga, baik dalam konteks ekonomi, budaya, hukum maupun politik. Tidak ada larangan formil apabila kita tidak menggunakan etika, namun hal mendasar ketika kita berbicara etika, kita berbicara mengenai: kepantasan, kebaikan, kepatutan. Semua orang akan melihat dan menilai kita, ketika kita sedang berkomunikasi menggunakan etika atau tidak.

Hal mendasar dari hikmah yang dapat kita saksikan, pada pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, terhadap Agus Harimurti. Ternyata untuk orang-orang hebat dan pintar seperti mereka, etika tidak melintas atau muncul secara seharusnya.

Kita sebagai rakyat dipertontonkan pada hal-hal pantas, patut atau tidak atas permasalahan tersebut. Sebaliknya kita sering menemukan etika ketika kita berada di pedesaan, kampung-kampung di mana orang-orang desa memperlihatkannya pada kita secara alamiah tanpa settingan apa pun.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *