• Oktober 30, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Yahya Sinwar, pemimpin gerakan Islam Hamas Palestina di Jalur Gaza. Foto: Mohammed Abed/AFP
Serangan bersejarah ke wilayah selatan Israel yang menewaskan lebih dari 1.400 warga setempat maupun asing 7 Oktober lalu disebut-sebut didalangi oleh dua pentolan Hamas, Mohammed Deif & Yahya Sinwar.

Menurut sumber yang dekat dengan Hamas, serangan yang dinamai ‘Operasi Badai Al-Aqsa’ itu dirancang ‘dua otak, tapi satu dalang’ — yang dari kacamata Israel, Deif berperan sebagai dalangnya.

Sinwar, pada gilirannya, dianggap sebagai tokoh kunci kesuksesan Hamas meluncurkan serangan terbesar dalam sejarah konflik Israel dan Palestina sejak intifada pertama terjadi di tahun 1987.

Argumen itu disampaikan mantan perwira intelijen di Israeli Defense Forces (IDF), Michael Milshtein. “Saya percaya bahwa Deif yang melakukan rencana tersebut, namun sebenarnya otak dari serangan ini adalah Yahya Sinwar,” kata Milshtein kepada Wall Street Journal.

Argumen Milshtein dibenarkan juru bicara IDF Daniel Hagari pada Minggu (29/10). Ia menyebut pasukannya secara khusus berniat untuk membunuh Yahya Sinwar.

Untuk mencapai misi tersebut, Hagari mengumumkan ratusan lokasi di Jalur Gaza yang berkaitan dengan Hamas telah digempur melalui serangan udara maupun darat.

The Times of Israel melaporkan, sumber keamanan di Gaza meyakini Deif dan Sinwar sedang bersembunyi di terowongan berbentuk labirin bawah tanah yang dibangun Hamas di wilayah kantong tersebut.

kumparan sebelumnya telah membahas soal sosok Mohammed Deif di sini:

Lantas, siapa sosok Yahya Sinwar?

Menurut The Guardian, Sinwar adalah pemimpin Hamas — penguasa di Jalur Gaza saat ini, usai mengambil alih kepemimpinan dari Ismail Haniyeh pada 2017.

Haniyeh kemudian menjabat sebagai Kepala Biro Politik Hamas dan tinggal di pengasingan di Qatar.

Ismail Haniyeh Foto: AP Photo/Adel Hana

Sebagai penguasa de facto Gaza, Sinwar menduduki jabatan tertinggi di Hamas — kelompok militan Palestina yang dibentuk pada 1987, ketika intifada melawan pasukan penjajah pertama kalinya terjadi.

Menurut The Telegraph, Sinwar adalah pemimpin Hamas paling kuat setelah Haniyeh. The Jewish Virtual Library mencatat, Sinwar lahir di kamp pengungsian Palestina Khan Younis, bagian selatan Gaza, pada 1962 dengan nama lengkap Yahya Ibrahim Hassan Sinwar.

The Economist melaporkan, Sinwar bergabung dengan Hamas tidak lama setelah didirikan. Pada 1980-an, Sinwar ditugaskan membunuh warga Gaza yang bekerja sama dengan Israel.

“Kami akan meruntuhkan perbatasan, dan kami akan merobek jantung mereka dari tubuh mereka,” kata Sinwar di tahun 2018, sebagaimana dikutip IDF.

Menurut lembaga penelitian European Council on Foreign Relations, Sinwar adalah tokoh kunci yang menghubungkan politbiro Hamas dengan sayap bersenjatanya saat ini, Brigade Izzuddin al-Qassam.

Adapun Brigade Izzuddin al-Qassam adalah pasukan yang mengambil peran besar dalam serangan ke Israel 7 Oktober lalu. Mereka terlibat saat menerobos dinding perbatasan dan menyusup ke wilayah Israel dengan paralayang secara terkoordinasi.

Dead Man Walking yang Fasih Berbahasa Ibrani

Dikatakan bahwa Sinwar telah ditangkap Israel beberapa kali dan menghabiskan 24 tahun di penjara. Dia kemudian dibebaskan berkat pertukaran tahanan dengan seorang tentara Israel pada 2011.

Selama di penjara, Sinwar tampaknya mempelajari seluk-beluk orang Israel dan bahkan ketika bebas, dia sudah fasih berbahasa Ibrani.

Setelah itu, Sinwar kembali berkiprah di Hamas dan secara perlahan menapaki ke jabatan senior. “Sinwar, 60 tahun, menjadi pemimpin dan anggota biro politik kelompok militan Palestina Hamas pada tahun 2017,” demikian menurut catatan European Council on Foreign Relations.

Ketua sayap politik gerakan Hamas Palestina di Jalur Gaza, Yahya Sinwar. Foto: Mahmud Hams/AFP

Kini, Sinwar adalah buronan nomor wahid militer Israel & dijuluki ‘dead man walking‘ (orang mati yang masih berjalan). “Orang itu ada dalam incaran kami,” kata juru bicara IDF, Kolonel Richard Hecht, seperti dikutip dari The New York Times.

“Dia adalah orang mati yang sedang berjalan, dan kami akan menangkapnya. Dia membangun kariernya dengan membunuh orang-orang Palestina ketika dia mengerti bahwa mereka adalah kolaborator. Itulah bagaimana dia dikenal sebagai penjagal Khan Younis,” tegas dia.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *