• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi tikus penular Leptospirosis. Foto: Pixabay
Ilustrasi tikus penular Leptospirosis. Foto: Pixabay

Kasus penyakit Leptospirosis di Kota Yogyakarta tahun ini mengalami peningkatan. Sampai Oktober 2023, kasus Leptospirosis di Kota Yogyakarta sudah melampaui temuan kasus pada tahun kemarin.

Catatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, per Oktober 2023 sudah ditemukan 22 kasus Leptospirosis di Kota Yogya. Sedangkan tahun 2022 kemarin, ditemukan kasus Leptospirosis sebanyak 22 kasus dengan 2 pasien di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menjelaskan bahwa rata-rata masyarakat yang tertular Leptospirosis karena mereka kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.

“Rata-rata pemilik rumah yang menderita Leptospirosis ini, dekat dengan sawah, banyak beraktivitas mengolah sampah ataupun jarang memperhatikan kebersihan genangan air,” kata Emma Rahmi Aryani di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (24/10).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani saat memberi sambutan pada Jumpa Pers di Ruang Yudhistira Balaikota Yogyakarta, Selasa (24/10). Foto: Pemkot Yogya
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani saat memberi sambutan pada Jumpa Pers di Ruang Yudhistira Balaikota Yogyakarta, Selasa (24/10). Foto: Pemkot Yogya

Ia menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang berasal dari air kencing hewan yang terinfeksi seperti tikus, anjing, atau hewan ternak lainnya. Bakteri ini bisa masuk ke dalam tubuh melalui bagian tubuh yang luka atau lecet.

Adapun gejala seseorang yang mengalami Leptospirosis biasanya akan merasa sakit kepala, suhu tubuh tinggi, nyeri otot, badan menjadi lemas, serta mata memerah.

Untuk mencegah penularan penyakit ini semakin luas, Emma meminta kepada masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih dan kebersihan lingkungan.

“Salah satunya dengan rajin membuang sampah yang ada di rumah. Selain itu, rajin menguras genangan air di kamar mandi agar tidak ada infeksi bakteri Leptospira,” ujarnya.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *