• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi layanan BRI. Foto: Dok. BRI
Ilustrasi layanan BRI. Foto: Dok. BRI

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjelaskan terkait tren penurunan saham perseroan yang semula berada di level 5.700-an pada 3 bulan terakhir, saat ini terjun di kisaran 5.000-5.100.

Direktur Keuangan BRI, Viviana Dyah Ayu Retno, menjelaskan pergerakan harga saham yang menurun tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga negara lain, sehingga bukan karena faktor internal perusahaan semata.

"Tapi diakibatkan kondisi eksternal perusahaan dalam hal ini adalah kondisi makro ekonomi salah satunya," ujarnya saat konferensi pers kinerja BRI kuartal III 2023, Rabu (25/10).

Vivi menuturkan, secara global pasar keuangan sedang mengamati kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), terutama terkait Higher for Longer, atau suku bunga acuan yang tinggi pada jangka waktu yang lama.

Fenomena tersebut, menurut Vivi, berakibat kepada naiknya imbal hasil US Treasury serta mengakibatkan penguatan dolar AS yang memicu pelemahan di pasar saham termasuk di Indonesia.

"BRI secara postur balance sheet-nya liabilities sensitive, artinya pada kondisi ekonomi di mana interest rate tinggi biasanya kinerja BRI itu lebih terkena pressure dibanding perbankan lain," jelas Vivi.

Meski demikian, Vivi tetap percaya diri BRI memiliki kinerja fundamental yang kuat dan terbukti dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan selama puluhan tahun.

Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari. Foto: Dok. BRI
Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari. Foto: Dok. BRI

"Ini yang menimbulkan optimisme bahwa BRI akan tetap tumbuh, despite kondisi perekonomian yang ada saat ini sehingga kita harap harga saham BBRI bisa recover ke harga yang wajar," pungkas Vivi.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penguatan dolar AS terjadi karena kondisi AS yang juga bergejolak, mulai dari belum adanya pimpinan Kongres, kondisi perekonomian China yang melambat, perang Hamas-Israel, hingga kondisi ekonomi global yang diperkirakan mengalami penurunan.

Bank Sentral AS, The Fed, juga mempertahankan suku bunga acuan tinggi, yakni di level 5,25-5,50 persen per September 2023. Padahal sejak tahun 2007, suku bunga AS berada di kisaran 0-0,25 persen.

Bahkan di bulan ini, The Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya. Hal inilah yang membuat investor global kembali memegang surat berharga AS atau US Treasury, karena imbal hasilnya melonjak tinggi.

"Ini lonjakan yang sangat besar, juga kita lihat bukan hanya levelnya tinggi, tingkah laku yield tidak predictable sangat volatile. Ini menyebabkan gejolak tidak hanya Amerika, tapi seluruh dunia karena banyak negara, banyak investor membeli surat berharga negara Amerika," pungkasnya.

https://www.instagram.com/p/Cy0RqemsOHi


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *